Got No Friend




Di tanggal ke sepuluh bulan ke empat di tahun terakhirku di sekolah menengah atas ini. Tidak terasa, tidak ingin mengakhiri namun tidak ingin selalu disini.
Aku gadis termuda di keluargaku, mempunyai hobi berkhayal dan bermimpi akan masa depan.
Biasanya, aku selalu memiliki skenarioku sendiri. Aku tertawa dan menangis sendiri.
Aku berbincang seakan-akan ada lawan bicaranya. Sekarang aku tersadar, diusiaku yang sudah cukup untuk memiliki KTP ini, aku terlihat menyedihkan.

Di mulai dari Taman Kanak-Kanak, seingatku aku tidak memiliki teman yang begitu dekat sampai bisa bermain ke rumahnya atau ada yang berkunjung ke rumahku.

Dilanjut ke Sekolah Dasar, aku menemukan teman. Selama 6 tahun, aku selalu bersamanya. Mengalami perubahan bersama, tertawa bersama, saling menggenggam tangan. Sampai pada akhirnya kita harus terpisah karena berbeda sekolah.

Di Sekolah Menengah Pertama, aku cukup kesepian ketika pertama masuk kelas yang paling akhir diangkatanku. Sampai saat itu aku melihatnya, sedang menggenggam buku berwarna putih aku memberanikan diriku lalu menghampiri dan bertanya mengenai tentang buku itu. Aku punya teman. Semacam geng, tapi ya hanya kelompok belajar. Sayangnya jumlahnya ganjil, aku tidak kebagian teman sebangku. Aku duduk dibelakang kelas, sendirian entah berapa bulan aku menghabiskan waktu disitu. Di tahun ketiga, aku berpisah dengan teman-temanku, aku bertemu teman baru. Jumlahnya lebih sedikit, hanya empat orang itu termasuk aku. Lumayan seru, namun tidak berlangsung lama. Ya kalian tahu lah, tahun terakhir diisi dengan ujian dan ujian.

Di Sekolah Menengah Atas, Ya Tuhan haruskah aku merasakan kesepian lagi? Itu yang terbesit dipikiranku karena aku harus bersekolah yang jaraknya lebih dari 5 km dari rumahku. Ini gila, mana bisa aku bertahan. Nyatanya aku menemukan harta karunku. Di tahun pertamaku aku melihat teman TK ku sekaligus teman mainku ketika SD tidak terlalu sering sebenarnya. Lama-kelamaan aku mulai memberanikan diri, aku akhirnya bisa berteman dengan hampir satu kelas dan ya teman beda kelaspun ada, syukurlah. Aku merasa sangat bahagia walaupun merasa sedikit kecewa sedikit. Sampai pada tahun ke dua aku masih merasa hangat. Namun sial, semenjak aku mengenal laki-laki banyak air mata yang membuat pipi ku basah. Pada saat kelas sebelas, aku harus mengalami sedikit drama. Aku ada drama dengan teman dekat  laki-lakiku yang sudah memiliki ‘gebetan’, dan satu sekolah sudah mengetahui. Tapi kamu tahu? Tanpa ada angin tornado, dia menjadi suka denganku dengan berbagai alasan yang tentu membuat aku harus ikut suka. Aku memang merasa nyaman, tapi aku menolak suka karena dia sudah memiliki incaran dan HEI SI PEREMPUAN JUGA SUKA PADANYA. Ada pula teman TK ku yang menyukainya, Ya Tuhan ini melebihi drama korea yang selalu ku tonton. Tidak hanya dua perempuan yang suka padanya, ada banyak, dan sialnya aku sempat menjahili mereka karena aku tahu mereka suka padanya. Sangat kompleks. Aku yang kurang dari 17 tahun saat itu, dengan perlahan dan dengan segala drama ala anak SMA, akhirnya memilih untuk bersamanya. Ini gila, haha. Cewe incarannya, teman TK ku, aku dan laki-laki itu berada di kelas yang sama. Awalnya indah, sangat indah. Teman-temanku masih sering bersamaku, dan aku punya dia. Namun saat di kelas duabelas aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Aku merasa sangat jauh dengan teman TK ku, hei, dia teman sebangku ku. Tapi sangat jauh rasanya, percayalah. Di tahun terakhir di SMA ini pula pasti sudah sibuk dengan urusan masing-masing TEMAN TERDEKAT masing-masing, sial aku tidak punya satupun. Aku masih punya dia, tetapi dia punya teman-teman yang membutuhkan dia tanpa aku. Tuhan. Aku mulai merasa kesepian lagi, aku memilih diam, kenapa lagi?

Tidak, aku belum lulus, hanya saja baru selesai ujian nasional. Beberapa bulan kemarin aku dapat izin untuk kuliah diluar kota. Tetapi tepatnya kemarin, aku ditampar dengan fakta bahwa aku tidak boleh diluar kota. Kenapa? Kenapa sekarang?
Aku sudah hampir sampai ke langit mah, pak. Kenapa aku harus jatuh lagi? Terlalu banyak mimpiku yang sudah hancur karena orang-orang. Masih ada dia yang menemaniku melalui chat. Tapi tak ada teman yang merangkulku atau mengelus kepalaku, padahal itu yang ku butuhkan sekarang. Sedikit sentuhan yang membuatku nyaman dan merasa disayangi. Nyatanya, dia atau temanku yang lain tidak menganggapku sebagai teman terdekatnya.
Kamu tahu? Aku tidak punya teman, itu kesimpulannya. Aku berharap punya, walaupun hanya satu. Teman yang mau bersama selalu, teman dekat, teman yang selalu terima apa adanya, teman yang selalu hadir. Aku butuh satu, mengapa tidak ada satupun yang mau bersamaku dan menjadi teman dekatku?

Komentar

  1. Hi there,
    Dari sudut pandangku, sebenarnya kamu punya teman. Bahkan teman terdekat. Kamu tidak menyadari hal itu. Coba lah perlahan buka sedikit kepekaan terhadap sekitar, kamu pasti akan memahaminya. Bukannya aku sok mengajari, karena dunia diluar sana lebih kejam. Aku pernah diposisi mu. Menghabiskan hari-hari dengan kesunyian, memendam kisah lama sendiri. Memang sakit. Tapi coba perlahan keluar dari zona nyamanmu. Aku yakin kamu bisa.

    *send virtual huge*

    Salam hangat,
    1-25-21 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohmy thank youu, semoga aku kuat untuk keluar dari zona nyamanku dan mulai mengesampingkan egoku yang tersakiti dimasa lalu haha.
      thank u xx

      Hapus

Posting Komentar