Sulit

Sudah tiga tahun aku mengenalmu,
berbagi cerita dan tawa denganmu,
menangisi satu sama lain,
namun memilih untuk tetap bertahan.

Teman, itu dulu.
Sekarang ada cinta ditatapan kita,
banyak drama yang sudah ku lewati,
hanya untuk bersamamu.

Cukup gila, tapi nyatanya kita berdua memang gila.
Baik dan buruk, kita lakukan bersama.
Setelah itu, tertawa seperti tanpa memiliki dosa.
Remaja memang bodoh jika bertemu cinta.

Entah sudah berapa ratus ribu bahkan mungkin jutaan,
uang jajanmu dan milikku yang habis untuk kita berdua.
Entah sudah berapa liter bensin yang dihabiskan untuk mengelilingin kota kelahiranku.

Aku yang memilih mencintaimu,
dan menusuk teman-temanku.
Aku yang rela dicap sebagai teman jahat,
tapi kamu memang dari awal sudah memilihku, mereka tidak tahu itu.

Aku yang memilih untuk dibenci karena mencinta,
tanpa tahu kenyataanya, mereka membenci.
Tanpa bisa berkutik,
aku menikmati tatapan sinis dan sindiran halus, setiap harinya.

Memang, aku seegois itu.
Memilih cinta dibandingkan teman.
Memang, aku sebodoh itu,
tapi walaupun waktu berputar kembali, aku tetap memilihmu.

Hingga tiba saatnya,
kita harus berpisah.
Mimpi kita berbeda, dan tentu ada jarak.
Sulit sekali merelakanmu.

Aku yang sudah terbiasa dengan sikapmu, 
dengan manja-mu, dengan adanya kamu.
Aku yang selalu bergantung padamu,
karena aku kehilangan teman.

Ini saatnya, saat aku harus menahan rindu.
Mengingat wajah dan suaramu dengan pipi yang basah.
Aku benci perpisahan, bukannya aku menolak takdir,
hanya saja, aku takut kamu 'berubah'.

Aku yang selalu seperti ini,
takut akan ada perbedaan dalam suara dan tatapanmu untukku.
Aku belum siap, aku tidak rela.
Tidak rela melepasmu.

Mimpi yang kita rajut dengan senyuman
semoga menjadi nyata,
semoga aku tidak kecewa,
semoga kita bersama.

Aku tidak ingin yang lain,
hanya kamu,
bieien.


di tulis pada ; May 06, 2019 11:46 PM
resmi berpisah pada ; June 08, 2019 03:00 PM.

Komentar