Berbeda
Matahari
perlahan turun dari puncaknya, saatnya pergantian jam kerja dengan bulan.
Langit berubah warna menjadi orange menyala. Perempuan yang memiliki tinggi
sekitar 158 cm ini berjalan lebih cepat dari biasanya, langkahnya tidak
teratur, jantungnya berdetak sangat cepat. Perempuan yang memiliki nama lengkap
Amaris Meina ini merasa takut. Karena jalanan yang menuju rumahnya semakin lama
semakin gelap. Lampu jalan yang amat minim membuat bibirnya tak berhenti
mengucap doa.
Amaris
bukan takut akan hal mistis, dia takut ada manusia yang sebenarnya bukan
manusia. Manusia yang sikapnya seperti binatang. Hari ini Amaris terlambat
pulang ke rumah, karena ia harus berkerja kelompok dengan temannya di Sekolah. Amaris
menggerutu didalam hati, ia menyesal karena tidak menyelesaikan tugasnya lebih
cepat. Waktu mengobrolnya lebih panjang daripada waktu untuk mengerjakan tugas.
Amaris dan teman-temannya mengobrol sampai lupa waktu.
Bulan
yang seharusnya menemani Amaris tidak keluar dengan sempurna, banyak awan hitam
yang menyelimutinya. Bintangpun seakan enggan menemani Amaris malam ini. Sudah
dua kali Amaris menjerit dalam hati karena petir tiba-tiba menggelegar tanpa
memberitahu Amaris. Amaris semakin mempercepat langkahnya, ia merasa bingung. Jarak
antara rumah dan sekolahnya sebenarnya tidak begitu jauh, namun mengapa rasanya
sangat lama untuk sampai ke rumah?
Amaris
menggenggam tangannya sendiri, agar tidak terlalu gemetar. Tiba-tiba Amaris
teriak karena ia terkejut ada sesuatu yang menyentuh pundaknya. Kepala Amaris
dengan perlahan menoleh ke belakangnya. Amaris akhirnya menghela nafas lega
karena ia melihat Ariq, teman sekelasnya. Amaris tersenyum manis dan
mengajaknya untuk berjalan bersama sampai rumah mereka. Rumah Amaris dan Ariq
bersebalahan.
Sepanjang
jalan Amaris dan Ariq bersenda gurau, Amaris sudah tidak merasa takut lagi. Ia
sudah bisa tersenyum lebar dan tertawa. Ariq, yang biasanya hanya diam di kelas
sekarang ia di hadapan Amaris, melontarkan guyonan yang bisa dibilang tidak
lucu. Namun mampu membuat Amaris yang selera humornya tidak jelas tertawa
lepas.
Smartphone
putih Amaris yang sedari tadi ia simpan di saku roknya tidak berhenti bergetar
selama 5 menit. Amaris mengabaikan notifikasi tersebut, mungkin hanya spam di
grup, pikirnya. Pandangan Amaris terfokus dengan Ariq yang makin lama semakin
pucat wajahnya. Amaris merupakan tipikal orang yang selalu berfikir positif,
mungkin ia kedinginan, pikirnya. Amaris dan Ariq terus bersenda gurau sampai
mereka melihat gang terakhir sebelum rumah mereka.
Tiba-tiba
Ariq berhenti, Amaris yang masih berjalan menyadari Ariq tidak ada di
sampingnya. Amaris menoleh kebelakang, ia melihat Ariq yang berdiri
menghadapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Amaris mengerutkan
alisnya, ia bingung. Kenapa Ariq berhenti dan melambaikan tangannya? Bukankah
rumah Ariq berada tepat di sebelah kiri rumah Amaris?. Amaris dengan ragu
membalas lambaian tangan Ariq. Mereka terus saling melambaikan tangan mereka
selama 5 menit. Amaris merasakan getaran yang berbeda di sakunya, ada panggilan
masuk.
Amaris menjawab
panggilan tersebut, belum 1 menit Amaris mendengar perkataan seseorang yang
menelponnya, Amaris sudah terkejut bukan main. Matanya terbuka lebar dan tangan
kirinya menutup mulutnya yang sedari tadi terbuka lebar. Pandangan Amaris
menjadi kabur karena air matanya memaksa untuk keluar. Ariq yang masih berada
di hadapannya masih melambaikan tangannya, senyumannya semakin lebar dan
sekarang terlihat seperti cengiran. Air mata Amaris menetes.
Amaris
menggelengkan kepalanya berkali-kali, ini sulit untuk di percaya, pikirnya. Amaris
menundukan kepalanya, ia membiarkan air mata nya menetes. Ketika Amaris
mendongkakan kepalanya tidak ada Ariq di hadapannya. Tangis Amaris semakin
kencang, ia terduduk lemas di jalan. Amaris tidak bisa melanjutkan perjalanan
menuju rumahnya. Kakinya terlalu lemas.
Setelah
10 menit, Amaris mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Ia bangkit dan
berjalan sangat amat perlahan. Amaris takut kenyataannya berbanding terbalik
dengan pikiran positif Amaris. Amaris tidak ingin apa yang Dina katakan, yang
menelponnya, itu benar benar terjadi. Amaris tidak ingin percaya. Setelah
berjalan layaknya kura-kura, Amaris akhirnya sampai di depan rumah Ariq. Amaris
langsung terduduk, lagi, kakinya terasa sangat lemas.
Air
mata Amaris lagi-lagi keluar tanpa izin dari Amaris ketika matanya melihat
sebuah bendera yang menggantung di pagar rumah Ariq. Sebuah bendera yang
menandakan bahwa salah satu dari penghuni rumah sudah pergi, pergi ke alam yang
berbeda. Amaris masih tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat. Amaris masih
ingin berpikir positif. Namun seberapa kuat pikiran positif Amaris itu tidak
akan membuat Ariq kembali, karena kenyataanya Ariq sudah jauh. Tidak mungkin
bisa kembali.
Dina
yang melihat Amaris yang terduduk lemas di depan rumah Ariq langsung
menghampiri dan memeluk erat Amaris. Tangis Amaris seketika pecah ketika
merasakan pelukan Dina, dengan suara parau Amaris menceritakan apa yang terjadi
padanya satu jam yang lalu. Dina hanya menjawab dengan tangannya yang membelai
rambut Amaris lembut. Dina mengajak Amaris untuk masuk kedalam rumah Ariq,
untuk pamit dengan tubuh Ariq yang sudah dingin dan sangat amat pucat.
Amaris
menggenggam tangan Ariq, sulit rasanya untuk percaya Ariq yang satu jam yang
lalu masih bersenda gurau dengannya ternyata sudah berpindah alam sejak 3 jam
yang lalu. Amaris masih tidak ingin percaya. Smartphone putihnya kembali
bergetar, Amaris mengambilnya dari saku roknya. Tangannya gemetar dan air
matanya memaksa untuk keluar ketika melihat notifikasi pesan. Pesan dari Ariq.
Ariq dziofali. Ariq yang sudah pergi jauh. Ariq yang sudah berbeda alam dengan
Amaris mengirimi Amaris pesan, 30 detik yang lalu. Dengan gemetar, Amaris
membuka pesan dari Ariq.
Amaris
tersenyum tipis dan air matanya keluar perlahan. Amaris hanya bisa tersenyum. Pesan
dari Ariq, dan bisa membuat Amaris percaya. Percaya bahwa Ariq sudah
benar-benar pergi.
"Maaf Amaris, aku pergi. Ini sudah waktunya, percayalah. Maaf jika hadirku mengejutkanmu, namun aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja sampai kamu masuk ke rumahmu. Mungkin ini sulit dipercaya, aku sudah jauh namun aku bisa mengirimkanmu pesan. Namun beginilah adanya. Amaris, jangan menangis lagi. Sekali lagi, aku memang sudah benar benar pergi, Amaris."
Komentar
Posting Komentar